Wednesday, November 9, 2011

Simple Wedding Cake

Tangal 7 September 2011 salah satu kenalan hubby melangsungkan pernikahan. Di Paiton dan sekitarnya, ada tradisi bagi kerabat-tetangga-teman dekat untuk menyumbang tenaga dan makanan untuk menyukseskan sebuah hajatan. Aku menawarkan diri ke hubby untuk menyumbang sebuah wedding cake sederhana.

Sengaja kami tidak memberitahu yang bersangkutan, siapa tahu di saat terakhir aku harus tugas keluar kota atau hasil dekorku kurang oke. Namun aku tidak bisa sepenuhnya mengandalkan imajinasi sendiri karena ada kemungkinan warna cake atau bentuk topper tidak cocok dengan acaranya. Tentu malu rasanya jika aku membuat topper jas dan ternyata yang menikah menggunakan blangkon. Akhirnya hubby cari-cari informasi dari kakak si calon pengantin.

Proses mendekornya sendiri tidak terlalu rumit. Cake dua tingkat, bawah dari cake betulan dan tingkat dua menggunakan dummy. Cover full fondant. Aku menggunakan veiner made in China yang murah meriah untuk mencetak hiasan daun. Hasilnya tidak sesempurna jika menggunakan barang branded tapi cukup lumayan, urat2 daunnya terlihat jelas. Topper aku bikin sendiri dari rolled fondant.

Simple Wedding Cake

Ketika mendekor aku baru ingat kalau kami tidak tahu nama mempelai perempuan. Maklum zaman sekarang undangan lisan pun oke saja. Karena sudah mepet, akhirnya aku putuskan untuk menulis nama mempelai pria "& Ny" (= dan nyonya). Satu masalah selesai :)

Saat delivery hubby harus melakukan sendiri karena aku harus berangkat kerja. Untunglah cake ini kokoh sehingga kami tenang saja meskipun hubby harus menyetir sendirian tanpa ada yang memegangi. Untuk masalah delivery ini aku terinspirasi oleh Yuli Kue Rumahan yang selalu mengguncang2 cake bikinannya sebelum pengiriman untuk memastikan cakenya tidak mudah geser dan rusak (soal packaging ini Yuli jago banget, sampai2 untuk mengeluarkan majalah Wilton -- yang aku beli darinya -- dari bungkusnya saja aku harus susah payah, soalnya plakbannya dobel2 banyak).

Acara pernikahan dilangsungkan secara sederhana namun hikmat. Hubby yang membawa kamera berkesempatan untuk membuat beberapa jepretan. Buah tangan kami diterima dengan sangat baik dan langsung diikutkan dalam arak2an rombongan mempelai pria, diletakkan di dekat meja ijab kabul dan bahkan ikut masuk ke kamar pengantin. Kuatir kalau mempelai salah sangka, hubby beberapa kali mengingatkan kalau cakenya bisa dimakan, bukan hiasan. Kalau dipajang2 lama lalu busuk tentunya sayang.
Simple Wedding Cake
Untuk Mas Didin sekeluarga, semoga langgeng dengan mbakyu, beroleh kebahagiaan dalam keluarga, dimudahkan jalan rezekinya, aminnnn.

Selamat menempuh hidup baru.

Paiton, 9 November 2011
Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...