Monday, December 6, 2010

Tentang Dapur Solia


 Kapan Dapur Solia berdiri? Tanggal 1 Januari 2009.

Saat itu kami baru saja menyelesaikan kontrak kerja sama dengan sebuah toko roti di Paiton. Setelah santai sejenak dari kesibukan membuat roti dan cake, muncul kerinduan untuk kembali asyik mendekor dan berbagi hasil karya dengan orang lain. Maka akhirnya aku (Shirley) kembali menerima orderan baking dari rumah. Suami (Gunawan) banyak berperan di urusan packaging dan delivery.

Bagaimana aku membagi waktu antara rumah, kerja dan baking?

Mengerjakan orderan di sela-sela kesibukan rutin terkadang merupakan tantangan. Dari pagi hingga sore aku bekerja di sebuah PMA di PLTU Paiton. Asisten bekerja setengah hari. Praktis saat aku baking, yang menemani adalah suami dan anakku. Jika ada pesanan, sepulang kantor aku mulai memanggang bahan2 yang sudah ditimbang oleh asistenku di siang harinya. Sementara menunggu hasil baking mendingin, aku mengurusi dan menidurkan anakku hingga pukul 10. Terkadang aku sendiri pun jatuh tertidur. Tengah malam aku kembali bangun, melanjutkan kegiatan dekor sampai selesai. Pagi hari saat cahaya matahari sudah cukup, aku mengabadikan hasil baking dengan kamera kesayanganku. Setelah itu pesanan siap untuk dikirim.

Kenapa blog ini ada?

Blog ini adalah caraku untuk menyimpan resep-resep yang kupakai. Terkadang aku harus belanja di luar kota dan lupa membawa catatan. Dengan membuka blog ini via HP, aku bisa mengingat kembali bahan yang harus kubeli. Praktis. Syukur-syukur kalau ternyata ada baker lain yang menemukan resep-resep ini, cocok dan kemudian bemanfaat bagi dagangan mereka.

Siapa pelanggan Dapur Solia?

Pelan-pelan Dapur Solia mulai dikenal orang dari mulut ke mulut. Sebagian pesanan datang dari sekitar tempat tinggalku. Sebagian lagi datang dari luar kota (untuk dikirim ke kerabat yang ada di Jawa Timur). Ketika kutanya darimana mereka kenal Dapur Solia, jawabnya dari internet -- dari hasil browsing. Sering kali aku tidak hanya mendapatkan pelanggan tapi teman baru.

Adakah pemberlakuan minimum order?

Aku menetapkan minimum order sebesar Rp 150rb untuk cake dan cupcake. Dengan menetapkan minimum order ini aku memastikan bahwa aku bisa mendapatkan untung walaupun sedikit. Setidak-tidaknya impas dengan waktu yang kukorbankan saat aku tidak bisa bersama suami dan anakku.
 
Dari mana aku belajar baking?

Percaya nggak, aku baru pegang mixer pertangahan tahun 2008?

Ketrampilan baking kuperoleh dari hasil kursus, mengikuti milis kuliner, membaca buku, blogwalking ke situs orang lain dan berlatih bersama2 dengan teman2 homebaker (khususnya yang bertempat tinggal di Surabaya dan sekitarnya).  

IMG_0572 Ki-ka Paula-Hepi-Suzan-Widya-Shirley-Devi-Riza-Inna

Meskipun tidak belajar secara formal, dengan cara seperti ini aku mendapat banyak pengetahuan yang bermanfaat. Tidak saja di bidang kuliner, tetapi juga di bidang blogging dan fotografi.
 
Catatan:
Omong-omong soal fotografi, sebagian besar hasil jepretanku aku simpan di sini: http://www.flickr.com/photos/dapursolia/sets/. Silakan jalan-jalan dan meninggalkan komen di sana.

Bagaimana caranya memulai berdagang secara online?

Aku pernah mendapatkan pertanyaan: bagaimana caranya berjualan secara online. Well, tidak ada cara yang instan karena itu mencuri foto orang dan memasangnya di blog / facebook/ situs kita adalah “tidak boleh.” Dosa besar. 

Saranku, praktekkan saja resepmu satu per satu, untuk dikonsumsi atau diberikan ke teman & keluarga dekat. Setelah selesai, potret dan unggahlah ke blog. Sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit. Tanpa disadari kita sudah membangun portofolio kita. Orang yang melihat dan tertarik membeli bisa menghubungi kita melalui telepon atau email. Afterall, the world has become smaller nowadays.

Ini adalah contoh foto baking awal2. Lugu, fotonya pun seadanya tapi aku bangga karena ini kubuat dengan tanganku sendiri.

McQueen Lightning for Gary

Adakah cita2 yang belum tercapai?

Banyak. Ingin menjadi baker yang lebih handal, ingin pintar memasak (aku belum pintar masak, at least belum selevel dengan ibuku), ingin (kembali) menjadi guru, ingin menulis buku, ingin membuat foto2 yang cantik, ingin bisa menjahit, ingin jalan2 ke tempat2 eksotik di dalam dan luar negeri, ingin berpartisipasi dalam sebuah gerakan yang membawa dampak positif bagi dunia (seperti Mother Teresa), ingin menjadi istri super untuk suamiku yang baik hati, ingin jadi mama yang dekat dengan buah hatiku, ingin punya usaha untuk masa pensiun. Di mana ada kemauan di situ akan ada jalan, iya enggak. 

Intinya bukan “tujuan” semata yang ingin kuraih tetapi semoga dengan menjalani usaha untuk meraih mimpi2 itu, aku berproses menjadi manusia yang lebih baik. Semasih jiwa melekat di raga. Soal hasil, biar Tuhan saja yang menentukan.  

Paiton, 6 Desember 2010
Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...