Saturday, February 28, 2009

Thanks God for Our New Gas Oven

Update per 27 Desember 2010
Pagi ini tiba2 aku menerima telpon dari Bima Boga. Rupanya ketika buka2 internet, ada yang sampai ke posting ini. Ceritanya si bapak dari Bima Boga (Bandung) ini ingin menjelaskan mengapa termometer oven tidak menunjukkan angka nol ketika oven dalam keadaan mati. Hal ini dikarenakan Bima Boga menggunakan air raksa yang sensitif terhadap suhu di luar oven (suhu ruangan). Hasilnya tentu lebih akurat.
Terus terang aku surprise ketika menerima telpon ini, karena oven kubeli di tahun 2009 dan sejauh ini sudah melayani pekerjaanku dengan baik. Terima kasih banyak untuk Pak Budianto yang sudah menyempatkan diri memberi penjelasan.
Bagi yang berkeinginan membeli oven Bima Boga atau sekedar mencari klarifikasi, bisa menghubungi Pak Budianti di HP 081 322 77 8786 atau 081 283 88096. (st)

Bersyukur................

Itulah perasaan kami berdua ketika oven gas baru kami sampai di rumah. Inilah oven kami yang ketiga, setelah menjalani fase memakai oven listrik dan oven tangkring. Kedua oven yang pertama sudah pernah menghasilkan duit, semoga yang ketiga ini juga membawa rezeki yang makin gede :))

Sejauh ini oven gas inilah yang paling mengesankan. Pertama karena kami harus menabung cukup lama untuk bisa membelinya (yang menjual tidak memberikan fasilitas kredit, harus tunai). Kedua karena dengan oven gas ini kami makin dekat lagi dengan impian kami menjadi bakul kue rumahan yang lebih profesional. It is time for better cakes, bigger cakes, more variety and innovation. Jadi ingat waktu belanja loyang gitar, nyampe rumah baru sadar kalau otangku kekecilan alias loyang gitarnya nggak muat!


Memang ini bukan oven yang terbaik apalagi termahal di dunia. Pembuatnya adalah produsen dalam negeri, bukan impor dari Cina atau Itali. Masih butuh waktu untuk mengetahui perilaku oven ini sampai bisa menghasilkan kue-kue yang sesuai dengan keinginan hati. Still .... it is one step closer.

Waktu membeli, cek atas bawah kiri kanan. Termostat kok nggak menunjukkan angka nol? Lho, kan suhu udara sekitar 27 °C, kata yang jual. Betul juga sih, tapi tetap ragu karena termometer oven tangkring tetap menunjukkan angka nol saat tidak digunakan. Cek selang regulator, baru tahu kalo pake selang yang bercabang dua karena untuk menghidupkan api atas dan api bawah.



Pertama kali beli, oven harus dipanaskan selama 30 menit (tanpa isi) untuk menghilangkan bau cat. Sempat terkejut waktu melihat ada percikan-percikan kecil. Ohh, rupanya itu sisa-sisa cat yang terbakar. Baunya cukup menyengat. Untung sirkulasi udara di daerah oven cukup baik. Ini foto partner tersayang waktu kutak katik oven untuk yang pertama kalinya. Sementara belum punya juru oven khusus, beliaulah andalan Dapur Solia hehe.




Cara penggunaan oven gas Bima Boga adalah sebagai berikut (dikutip dari manual):

1) Buka kran gas api bawah dengan posisi kran gas dibuka ½ sehingg api menyala kecil/ sedang pada pemakaian pertama selama 30 menit.

2) Jika posisi kran gas dibuka ½ menit masih belum menyala, buka sedikit demi sedikit sampai api menyala sedang.

3) Tujuan oven gas dibakar dengan api sedang pada pemakaian pertama untuk menghilangkan bau cat oven, selanjutnya pemakaian api dapat disesuaikan dengan panas yang dibutuhkan.

4) Api atas hanya digunakan untuk pembuatan lapis legit dan kue yang membutuhkan api atas.

5) Pemakaian panas oven: Jika kita memerlukan panas udara di oven sebesar 150 derajat, start pertama api harus mencapai di atas 150 derajat. Lalu kecilkan api sekecil mungkin agar suhu di dalam oven stabil di 150 derajat, jika api turun kembali dari 150 derajat, besarkan kran sedikit demi sedikit sampai suhu stabil.

6) Khusus pemakaian api di atas, jika menggunakan api atas, tutup oven harus dibuka/ angkat.

Catatan: aku berusaha selalu menyalin manual alat-alat yang aku beli di blog, berjaga-jaga jika suatu hari kertasnya hilang, aku masih bisa buka-buka lagi di internet. Untung yang dibeli bukan mesin cuci atau elektronik yang manualnya berhalaman-halaman itu :))


Paiton, 28 Februari 2009

Lightning McQueen for Fikri

Pukul 7 malam, HP berdering. Rupanya telpon dari kastamer setia. Birthday cake untuk si jagoan kecil, diambil besoknya pukul 5 sore. Olala, mepet banget! Langsung mutar otak memikirkan bahan-bahan yang tersedia di rumah. Kucoba mempromosikan Triple Chocolate Cheesecake, mumpung barusan bikin dan masih hapal trik-triknya :)) Untunglah si bapak oke saja.

Rencana awal, Triple ini akan dihias ala klasik. Setelah sponge cake & 3 layer chocolate cheese mengeras, bagian atas dibubuhi whipcream dan hiasan coklat. Setelah beres, aku masukkan lagi ke pendingin. Pikirku, besoknya tinggal masang buah strawberry segar, beres.

Menjelang makan siang, telpon berbunyi lagi. Ada perubahan rencana. Hiasan minta dibikin rame, dengan mobil-mobilan kalau bisa, yang cocok untuk acara anak-anak. Langsung mutar otak, apa yang bisa diberdayakan. Cari topper udah nggak mungkin, waktunya nggak ada. Browsing sana sini, akhirnya ketemu foto Lightning McQueen dengan resolusi yang lumayan. OK, cetak, lapisi dengan plastik laminating, beres. Thanks to Paman Google :))

Setengah lima sore, mulai bersibuk-sibuk lagi. Whipcream harus dibongkar sedikit untuk memberi tempat ke hiasan yang baru. Sisa whipcream tadi pagi kuambil dari kulkas. Lha kok sudah jadi keras tapi karena waktunya mepet, dipakai saja. Meracik yang baru mana sempat. Hiks, bentuknya jadi lucu, bentuk kerangnya nggak keliatan blass, menunjuk ke atas kayak Tugu Pahlawan.

Akhirnya selesai juga .... dengan desain yang sama sekali tidak terpikirkan olehku sebelumnya. Inilah enaknya jadi bakul kue, otak terpakai terus untuk berinovasi hehe.

Ada kejadian lucu setelah cake diambil. Si pelanggan ragu-ragu apakah ini edible photo ataukah plastik biasa. Daripada salah, beliau telpon ke hp. Wahh .... itu plastik Pak, jangan dimakan ya. Untunglah beliau bertanya, kalau nggak bisa salah gigit hehe.

Beberapa waktu kemudian aku menerima email yang berjudul "Compliment". Katanya cake-nya enak banget, kayak es krim. Anak-anak berebutan makan sampai piringnya liciiiiin. Duh, bahagianya! Hilang semua ngantuk & capek sisa begadang.

Met ulang tahun ya Dek .....

Paiton, 28 Feb 2009

Cheese Cake dalam Mika Oval

Loyang tanpa sambungan adalah investasi yang berharga untuk bakul kue yang produk andalannya adalah cheese cake. Harganya lebih mahal dari loyang biasa tetapi kegunaannya jauh melebihi selisih harganya. Setelah sekian lama menggunakan loyang biasa dengan bungkus aluminium foil, minggu ini aku mencoba menggunakan loyang oval yg biasa disebut cheese mould. Wah, terasa banget pekerjaan jadi dimudahkan. Begitu dibalik, dimasukkan ke mika khusus cheese mould ini, gedenya juga pass dengan ukuran cakenya.



Cake ini dibuat untuk farewell party seorang teman baik. Dua loyang oval cukup untuk menjamu 25 orang (potongnya kecil-kecil). Satu pake olesan blueberry, satunya pake strawberry. Udah nggak pake acara masuk chiller lagi. Semua bilang uenak kecuali 1 orang: suami teman yg punya gawe. Lho, kok bisa? Rupanya doski bueeennnci dengan segala macam keju. Wah, nggak tahu nih soyyiiii. Nggak pake konsultasi ke si suami soalnya. Tapi gpp, 24 lawan 1 masih okelah :))

Paiton, 28 Februari 2009


Untuk pemesanan hubungi:
Shirley

Email: dapur.solia@gmail.com
Flexi: 0335-7646252
* Gratis ongkir untuk wilayah Paiton

Friday, February 27, 2009

Cheesecake with Fruit Topping for Ranie

Pelanggan ini menyukai cake yang bertekstur lembut. Untuk ultah ke-2 sang putri tercinta, beliau memesan cake kesukaan keluarga mereka, apalagi kalau bukan cheesecake. Ini fotonya. Karena difoto saat subuh, penerangannya kurang maksimal.


Supaya tidak eneg, hiasan menggunakan ganache dari coklat putih - bukan buttercream. Untuk topping, aku menggunakan buah kiwi, jeruk naval dan strawberry (thanks to the new Giant in the neighbourhood). Hasilnya ... cake yang lembut dengan selingan rasa segar.

Karena susu UHT dengan merk yang biasa kupakai sedang kosong, aku terpaksa menggunakan susu manis rasa vanila. Sempat takut kalau rasa cake menjadi terlalu manis. Saat kutanyakan ke pemesannya, untunglah tanggapannya positif. Anak-anak suka sekali dengan ganachenya sementara si ibu doyan dengan rasa keju dari cake. So .... semua hepi :)

Happy Birthday, Dek Ranie.

Thanks ya, Mas ... moga-moga next time order lagi.

Paiton, 28 Februari 2009

Springform Pan

Namanya keren: springform pan. Kalau diindonesiakan menjadi loyang bongkar pasang, disingkat bongpas. Untuk yang belum pernah melihat, begini bentuknya.

Loyang bongpas ini bermanfaat utamanya sebagai loyang untuk jenis cake yang sulit dibalik, misalnya triple chocolate cheese cake. Lihat engsel yang berada di sisi samping? Engsel itu bisa dibuka sehingga pinggiran loyang menjadi longgar dan diameter loyang membesar. Saat engsel dibuka, dasar loyang akan terlepas dari dudukannya. Selanjutnya mudah saja, tarik kertas roti atau mika alas berikut cake di atasnya, pindahkan ke tatakan cake bulat. Selesai.



Paiton, 27 Februari 2009

Krimcis Gadungan

Jangan panik kalau Anda memerlukan cheese cream dan supermarket langganan Anda tiba-tiba kehabisan stok. Asal punya stok keju cheddar, Anda bisa mengakali dengan membuat krimcis gadungan.

KRIMCIS GADUNGAN
Ditulis oleh: Shirley

Bahan:
3 bagian Susu UHT cair, plain (misal: 130 ml)
1 bagian Butter, unsalted (misal: 40 gram)
3 bagian Keju cheddar sesuai selera (misal: 125 gram)

Cara membuat:
1) Parut keju cheddar hingga lembut
2) Masukkan keju parut, susu, butter ke dalam wadah tahan panas
3) Isi dandang dengan air panas. Tim adonan keju selama 5-7 menit. Matikan api. Diamkan selama 5 menit di dalam dandang. Angkat dan aduk.
4) Krimcis gadungan siap digunakan.

Catatan: resep di atas akan menghasilkan ± 300 gram krimcis. Jika ukurannya berbeda, bagi jumlah cheese cream yang diminta resep dengan 7, lalu kalikan dengan 3 : 1 : 3 (susu : butter : keju cheddar).

Paiton, 27 Februari 2009

Thursday, February 26, 2009

Sambal Goreng Teri Tempoyak

Pernah dengar bahan makanan yang bernama tempoyak? Aku belum pernah sampai akhirnya aku berkenalan dengan Pak Wisnu Martono, salah satu dari penjaga gawang milis NCC. Kalau dengar cerita Pak Wisnu mengenai tempoyak, waduhh, dijamin ngilerrr! Duren yang dagingnya manis dan beraroma "menusuk" (bagi yang nggak doyan tentunya), difermentasi sehingga menjadi penganan yang sama sekali berbeda dari buah aslinya baik dari sisi rasa maupun aroma. Setelah fermentasi sempurna, jadilah tempoyak. Tempoyak yang rasanya masam ini kemudian diolah sebagai salah satu bumbu dari menu "Sambal Goreng Teri Tempoyak."

Dengan seizin penulis aslinya, aku mengutip artikel mengenai tempoyak ini. Siapa tahu Anda berminat untuk mencobanya.


Tempoyak
Written by Wisnu Martono

Saya justru membuat tempoyak dari daging durian monthong, krn duren lokal sedikit sekali daging buahnya. Pilih yang sudah masak benar, biasanya yang sudah nampak berair. Pisahkan daging dari biji. Beri garam sedikit. Bisa ditambah cabe rawit yang bisa mempercepat proses fermentasi. Namun proses fermentasi tidak bisa terlalu lama karena akan mempengaruhi rasa akhir.
Simpan dalam tempat yang tertutup rapat. Usahakan disimpan dalam suhu ruangan. Bisa juga dimasukkan ke dalam kulkas (bukan freezernya) namun fermentasi akan berjalan lebih lambat.

Tempoyak yang berumur 3-5 hari cocok untuk dibuat sambal karena sudah masam namun masih ada rasa manis di sana.

Saya taruh di kulkas, memang agak lama menjadi tempoyak. Tapi, saya tidak kuatir akan overfermentasi. Saya pakai garam setengah sendok teh, untuk daging buah sekilo. Diaduk rata dengan daging buah, sebelum ditutup rapat.


Sambal Goreng Teri Tempoyak
Resep by Wisnu Martono

Bahan :
500 gr teri Medan
Cabe giling yang sudah berbumbu lengkap
3 sdm tempoyak

Cara Membuat:
1. Goreng teri sampai matang
2. Gunakan minyak sisa menggorang untuk menumis cabe giling
3. Masukkan tempoyak, aduk rata
4. Masukkan teri goreng


Untuk yang berminat melihat foto dari tempoyak maupun sambal gorengnya, silakan lihat di pranala berikut.


Paiton, 26 Februari 2009

Monday, February 23, 2009

Donat Beku

Sewaktu membuat donat kelinci, sengaja aku sisakan ½ resep untuk percobaan donat beku. Setelah adonan diistirahatkan selama 10 menit, langsung ditimbang sebesar 30 gram lalu dibundar-bundari, tata di loyang yang sudah ditaburi terigu dan langsung masuk freezer. Selang beberapa jam, aku cek ... oh, sudah beku dan keras. Sip, sesuai rencana. Peragian juga berhenti, terlihat dari besar adonan yang tidak bertambah.

Tadinya berencana mengeluarkan donat beku ini hari Senin subuh untuk bekal ke sekolah & ke kantor. Nyatanya aku bangun terlambat. Mau ngurusin donat, wah mana sempaat. So aku biarkan saja sampai hari Selasa.

Selasa sore, adonan aku keluarkan dari freezer, diletakkan begitu saja di atas meja makan supaya adonan kembali ke suhu ruangan. Tetangga sebelah datang untuk ngobrol, kira-kira sudah 2 jam, aku tengokin ke meja. Lho lho lho ... kok udah ngembang adonannya. Wah, kudu cepat masuk penggorengan nih.

Tanpa ba, bi, bu aku bolongin donatnya satu satu. Udah nggak sempat lagi untuk menggilas (lagian aku agak takut kalo adonan over fermented dan malah ambles kalo digilas). Pasang wajan, masukkan minyak, panaskan sebentar lalu masukkan adonan donat. Setelah satu sisi kuning, balik donatnya. Satu sisi lagi kuning, angkat.

Inilah hasilnya.


Komentar: karena adonan donatnya kadung over fermented, tekstur jadi rada kempes, nggak mentul-mentul galak kayak adonan hari sebelumnya. Waktu defrost ternyata tidak selama yang kubayangkan, cukup 30-60 menit saja (tergantung besar adonan). Soal rasa nggak masalah, tetap enak, apalagi kalo sudah ditambahi topping ... akan sulit dibedakan dengan donat yang dibuat sekali jadi.

Pesanku, kalo mau menggunakan metode donat beku ini, pasang timer biar nggak kebablasan karena asyik mengerjakan aktivitas yang lain :))

Paiton, 24 Februari 2009

Saturday, February 21, 2009

Triple Chocolate Cheese Cake


Ini hasil percobaan dengan Triple Chocolate Cheesecake. Resep dari kompas.com kumodifikasi sedikit di bagian cheese cream (pake krimcis gadungan). Sisanya nurut abis. Eh enggak juga ding, sponge cake coklatnya tanpa mentega cair karena kelupaan! Ingatnya pas adonan sudah masuk oven. Walah, akhirnya pasrah ... liat aja ntar gimana jadinya. Waktu sponge cake dikeluarkan dari oven tidak ada keanehan. Cuman sponge cakenya bener2 sponge, ringan sekali. Apa itu efeknya adonan nggak dikasih mentega ya.

Anyway. Cake dibuat dengan loyang bulat 22 cm, setelah matang didinginkan lalu dimasukkan ke loyang bongkar pasang (springform pan) ukuran 22 cm juga. Ternyata eh ternyata, setelah dingin cakenya menciut, jadi nggak fit di loyang bongpasnya (kekecilan). Rundingan dengan hubby, akhirnya coba deh dikelilingi mika di bagian dalam loyang bongpasnya (kayak bikin cake tiramisu). Sayang mikanya ketipisan jadi mleot. Setelah kemudian resep kubaca ulang, rupanya sponge cake ini aslinya dibuat di loyang kotak.

Ya sudah nekad aja. Tuang adonan white chocolate cheese cream, masukkan freezer. Selang beberapa lama, tuang lagi adonan milk chocolate cheese cream, bekukan lagi. Terakhir DCC cheese cream. Tutupi dengan plastik cling wrap, bekukan sampai pagi.

Subuh-subuh aku bongkar loyang bongpasnya, aduuuuh, ternyata terjadi betulan ketakutanku. Base cake yang kekecilan menyisakan jarak di kiri kanan, sehingga waktu dituangin cairan jadi nggak bisa rapi membentuk 3 layer seperti seharusnya. Foto terlampir. Sampai situ udah males banget mau nerusin tapi hubby kasih semangat, masak udah sebegini nggak diselesaikan. Akhirnya aku taburin bubuk coklat sekedarnya. Whipcream kocok aku coba bentuk kerang koma tapi kok nggak mau lengket dengan cakenya ya. Entah whipcreamnya terlalu padat (kurang air) atau kena bubuk coklat itu sehingga nggak bisa lengket. Setengah putus asa, aku kasih hiasan tutul-tutul saja pake whipcream (Bu Fat, maaaaffff nggak bisa mengamalkan ilmu kursus hiks hiks). Sisa strawberry dari hari kemarin aku taruh di atasnya + 3 butir cherry hijau bertangkai.

Cake ini aku bawa ke kantor dalam rangka makan siang perpisahan salah seorang rekan yang akan mengambil cuti hamil selama 3 bulan. Makan siangnya di sebuah rumah makan yang agak jauh dari kantor, di siang bolong. Udah cemas juga kalo cakenya "cair". Ternyata lumayan kok, setelah makan siang selesai, cakenya masih kokoh. Cuman waktu motong yang terakhir2, udah agak lembek kena hawa panas.

Soal rasa, uenak sekali. Gimana nggak enak, isinya coklat, cheese cream, mentega, susu, whip cream, cake coklat, semua yang enak2 dan sangat berlemak! Untukku yg nggak suka manis, nikmatnya terasa di 5 sendok pertama saja habis gitu mblengerr.

Bos melontarkan komentar: "Shirley, this cake is very, very, very nice!" Sepotong cake yang aku bawa pulang untuk Naomi juga disambut dengan antusias, dinamai dia sebagai "kue es krim". Senang juga dipuji begitu, tapi aku nggak akan sering2 membuatnya. Bisa kacau diet orang serumah!


TRIPLE CHOCOLATE CHEESE CAKE
Penulis: Nuraini W
Link: http://kompas.co.id/read/xml/2008/12/31/12222158/triple.cheese.cake
Modifikasi by Shirley




Bahan A:
1 bh sponge cake cokelat (ukuran sesuaikan dengan loyang bongkar pasangnya)

Bahan B:
3 lembar gelatin, potong-potong
60 ml air

Bahan C:
170 gr Keju cheddar, diparut
170 gr Susu cair UHT
60 gr Mentega unsalted
(di resep aslinya menggunakan cheese cream 400 gram)

Bahan D:
200 ml whipped cream, kocok sampai kaku
125 ml susu cair
150 gr gula kastor

Bahan E:
60 gr white cooking chocolate, lelehkan
60 gr milk cooking chocolate, lelehkan
60 gr dark cooking chocolate, lelehkan


Cara membuat:

1. Siapkan base cake sponge coklat sesuai resep andalan Anda, atau Anda bisa menggunakan resep di bawah. Layer pertama ini tidak wajib dibuat dari sponge cake, bisa juga dari remukan wafer coklat + mentega + gula, diaduk rata lalu dicetak langsung di loyang bongpas. Be creative!

2. Alasi loyang bongpas dengan plastik mika. Taruh sponge cake chocolate di dasar loyang.

3. Tim Bahan B (gelatin + air) hingga larut, sisihkan.

4. Aduk Bahan C menjadi satu, tim selama 5 menit di dandang berisi air mendidih hingga larut dan menjadi cairan yang
homogen. Ini yang kita sebut "krimcis gadungan".

5. Kocok krimcis hingga lembut, masukkan susu & gula kastor ke adonan keju. Berikutnya tambahkan gelatin sedikit sedikit dan whipcream kocok, aduk rata.

6. Bagi adonan menjadi 3 bagian (jika perlu gunakan gelas ukuran). Campur masing-masing bagian dengan 1 macam chocolate leleh, aduk rata.

7. Tuang adonan white chocolate di loyang, masukkan dalam freezer. Setelah bagian atas mengeras, tuangkan adonan milk
chocolate, simpan kembali dalam freezer. Terakhir, tuangkan dark cooking chocolate.

8. Simpan dalam freezer, tutup atasnya dengan plastik cling wrap.


Resep untuk Sponge Cake Coklat

Bahan:
4 btr Telur
100 gr Gula kastor
¼ sdt Vanili
60 gr Margarin cair
15 gr Coklat bubuk
75 gr Tepung terigu serbaguna
¼ sdt Baking powder

Cara membuat:
1. Kocok telur dan gula sampai kental dan putih.
2. Masukkan tepung sambil diayak sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai rata.
3. Terakhir masukkan margarin cair aduk rata.
4. Tuang ke dalam loyang diameter 24 cm tinggi 3-4 cm. Panggang dalam oven selama ± 35 menit dengan panas 170° Celcius.
5. Setelah matang, keluarkan cake dari loyang, dinginkan di rak kawat.
Catatan:
- Cake ini akan menciut setelah dingin. Karena itu gunakan loyang bongpas yang lebih kecil dari loyang cakenya, misal ukuran 22 cm.
- Jika perlu, pagari cake dengan mika atau kertas roti agar tiap lapisan rapi dan tidak mbleber.


Paiton, 22 Februari 2009


Donat Kelinci

Waktu mengikuti even Donat Week NCC, beberapa kali aku memancing teman-teman milis untuk membuat kreasi donat sayuran. Menjelang injury time, belum ada juga yang laporan kreasi yang satu ini. Akhirnya aku membulatkan tekad untuk mewujudkannya sendiri. Ternyata, oh ternyata, aku kalah langkah dari Camelia, miss host yang baik hati. Lihat nih kreasinya di sini. Dia juga pakai quick melt cheese dan black pepper. Haha, kok pikiran kita sama ya Mel ...

Berhubung semua bahan sudah lengkap, tetap kulanjutkan niatku untuk membuat donat sayuran. Nama "donat kelinci" kuculik paksa dari Camelia karena aku suka banget dengan istilah ciptaan dia ini, kedengarannya komersil dan mengundang rasa ingin tahu hehe...

Resep dasarnya pakai resep donat kentang NCC. Sayurannya pakai brokoli, wortel diparut halus, dan sawi cincang. Digilingnya pakai Concerto jadi lengan nggak terlalu pegel. Warna adonannya jadi lucu, berbintik-bintik jingga dan hijau seperti adonan bakwan jagung. Di tahap ini Naomi pengen gabung terus, jadilah satu engkol kami kayuh berdua. Adonan relatif lebih basah dibandingkan dengan adonan donat kentang biasa. Solusinya apa? Tambahi tepung terigu sekitar 1-2 sendok makan sampai adonan nggak lengket lagi. Ini foto adonan setelah kalis elastis. Adonan tidak lengket di tangan dan bila ditarik, tidak mudah putus.



Satu resep jadi 14 buah donat ukuran 50 gram dan 12 buah donat ukuran 30 gram (lebih kurang, soalnya nggak pake timbangan digital). Yang ukuran kecil sengaja aku masukkan freezer, percobaan bikin donat beku untuk dimakan hari Senin pagi (buat bekal sekolah dan ke kantor). Menurut teman-teman, kalau hanya dimasukkan ke kulkas lemari bawah, proses fermentasi tetap berjalan terus.



Toppingnya bisa dikreasikan sesuai selera. Mau pake taburan gula halus, coklat meses, selai, keju, terserah deh. Donat ini cocok dipadukan baik dengan topping yang berasa manis maupun asin.

Rasanya? Semua bilang enakkkk. Naomi, bapaknya, Gary anak tetangga, aku dan 2 asisten melahap semua yang tersedia dalam waktu kurang dari 2 jam! Yang topping coklat lebih digemari dari yang keju. Usual story at my home :)

Untuk yang ingin mencoba, ini resepnya ya. Ibu-ibu nggak usah kuatir, rasa sayurannya tersamarkan sama sekali jadi tidak susah menyuruh anak untuk memakannya.

DONAT KELINCI

:: Ditulis oleh Shirley ::



Bahan-bahan:

500 gr Tepung protein tinggi (Cakra Kembar) + 25 gr untuk taburan & tambahan jika adonan lengket
50 gr Susu bubuk
11 gr Ragi instan (Fermipan)
150 gr Kentang, kukus, lumatkan sampai benar2 halus, dinginkan
100 gr Gula pasir
60 gr Mentega (Orchid, unsalted, biarkan di suhu ruangan)
½ sdt Garam
4 btr Kuning telur (uk. sedang)
100 hingga 125 ml Air dingin (penggunaan air disesuaikan dengan kebutuhan adonan)
50 gr Wortel, diparut halus, sisihkan
30 gr Brokoli, buang batangnya, cincang halus
3 lembar Sawi, cincang lembut, letakkan di mangkok bersama brokoli, kukus sebentar untuk mematangkan dan menghilangkan bau langu (aku mengukusnya bersama dengan kentang, kurang lebih 10 menit)

Cara Membuat:

1. Masukkan tepung, susu bubuk, ragi, kentang lumat, gula pasir dan kuning telur ke dalam wadah, aduk & uleni sambil masukkan air sedikit demi sedikit (jangan langsung dituang, sisakan air 50 ml untuk berjaga-jaga jika adonan terlalu kering).

2. Setelah adonan setengah kalis (sudah tercampur rata), masukkan garam dan mentega. Catatan: jangan pernah memasukkan garam dan ragi bersamaan karena ragi akan mati bila bersentuhan dengan garam. Uleni hingga kalis. Jika adonan terlalu lengket, tambahkan terigu sedikit sedikit. Jika terlalu kering, tambahkan air sedikit sedikit. Jika menggunakan Concerto, waktu mengaduk sekitar 20 menit.

3. Bulatkan adonan, letakkan di meja yang telah ditaburi sedikit terigu, tutupi dengan plastik atau serbet. Biarkan selama 10 menit.

4. Bagi-bagi menjadi adonan dengan berat 50 gram, pulung hingga berbentuk bulat. Diamkan 20 menit hingga mengembang. Asumsi: cuaca cerah dan lembab. Pada cuaca mendung atau musim dingin, peragian akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Bisa dibantu dengan melakukan proofing, caranya letakkan sebaskom air hangat di dalam tempat tertutup misal oven, letakkan loyang berisi adonan di atasnya. Awas jangan terlalu panas juga karena ragi mati pada suhu 40 °C. Proofing yang ideal terjadi pada kisaran suhu 26 hingga 28 °C dengan kelembaban 80 persen.

5. Gilas untuk membuang gas dari adonan lalu cetak sesuai selera dan lubangi tengahnya. Adonan hasil "pembolongan" tidak perlu dibulat-bulatkan lagi, langsung saja coblos tengahnya dengan jari untuk menghasilkan donat super mini atau sate donat (donat sunduk kalo istilah Paiton).


6. Goreng dengan minyak panas sedang (kalau terlalu panas matikan api sebentar). Saat menggoreng adonan tidak perlu dibalik-balik seperti menggoreng tempe ya. Biarkan saja matang satu sisi (sampai berwarna kuning) lalu balik satu kali hingga matang sisi satunya. Angkat dan tiriskan dari minyak.




7. Penyelesaian: sesuai selera masing-masing.

Untuk topping keju aku menggunakan Kraft Quick Melt parut 50 gram dan susu cair 50 ml, panaskan sebentar di microwave lalu aduk2 hingga larut, bubuhi merica hitam dan seujung sendok teh oregano & basil.
Untuk topping coklat, 50 gram dark cooking chocolate (misal Collata) dicincang lalu cairkan, campur dengan 50 ml susu cair. Penambahan susu cair ini akan membuat coklat berwarna mengkilap dan topping tidak mudah kering.

Ini ekspresi anak-anak setelah pesta donat. Pastinya kenyanggg!




Paiton, 21 Februari 2009

Thursday, February 19, 2009

Cake Dora - Another BC Transfer


Ketagihan dengan teknik BC transfer, kira-kira selang seminggu dari selesainya keik Minnie, aku eksperimen lagi bikin dengan gambar Dora. Kali itu aku sudah agak tahu triknya supaya BC terlihat rapi: pakai spuit yang bulat polos, mencetnya didekatkan dengan permukaan meja di bagian tengah bidang yang akan ditutup lalu ditekan kuat sampai mbleber. Bikin bordernya aja yang capek karena aku belum menguasai teknik menghias memakai DCC. Belakangan aku tahu kalo DCC ini tidak langsung dipakai, dibiarkan dulu sampai sedikit mengeras baru ditorehkan di bidang gambar. Atau, dijadikan ganache coklat sekalian, jadi teksturnya seperti Choki-choki.

Bidang kosong dan bagian samping sudah tertutup, tapi ini yang mengerjakan tukang (halo mbak Anna), bukan aku .. hehe. Keiknya kekecilan jadi rambut Dora yang sebelah kiri jadi nongol keluar dari border kuenya. Ada-ada aja ya :))

Sebetulnya ada satu gambar lagi, Elmo, tapi nggak sempat dipakai karena ketetesan air. Nggak pa-pa deh, ntar bikin lagi yang lebih bagus.

Sebetulnya aku masih pengen melanjutkan lagi dengan teknik sablon seperti yang dulu pernah di-share oleh Uni Dewi Anwar, tapi belum ada kesempatan.

Paiton, 19 Februari 2009
*foto-foto ini sudah pernah diposting di blognya Manies.

My Very First Buttercream Transfer Cake


Ini foto lama yang aku posting untuk nostalgia. Pertama kali nyoba teknik BC transfer, hasil interpretasi dari diskusi di milis. Lihat pinggirannya? Nggak aku tutup ............... karena nggak bisa! Hehehe.

Biar nggak karuan gini anakku hepi. Besoknya dia panggil anak-anak tetangga untuk potong kue. Acara ultah bohong-bohongan :))

Semoga semakin hari menjadi semakin baik ya.

Paiton, 19 Februari 2009

Sunday, February 15, 2009

Homemade Pizza

Sampai setahun yang lalu, di sekitaran Paiton masih ada orang yang berjualan pizza dengan label M*m* Pizza. Entah apa yang terjadi, sekarang pedagang itu tidak pernah kelihatan lagi. Mungkin peminat pizza cuma sedikit dan pedagangnya memutuskan untuk beralih ke bidang lain.

Soal saus pizza, kata Bang Gun sih saus pizza bikinanku enak, lebih segar & enak dibanding beli di luar (duh, jadi gede kepala). Cumannnn ...... aku nggak kuat menggilas adonan roti sampai kalis. Pernah nyoba bikin, jadinya kerasss. Problemnya karena adonan tidak kalis dan proofing juga nggak sampai mengembang betul (maklum saat itu belum pernah megang tepung udah langsung nyoba bikin pizza). Itu pengalaman setahun yang lalu.

Bulan Januari kemarin aku beli alat untuk menggilas adonan namanya Concerto. Setelah dianggurkan selama 4 minggu, akhirnya aku kemarin pakai untuk percobaan bikin pizza lagi. Wiks, enak loh! Memang tetap terasa berat di lengan waktu memutar engkol alatnya tapi jauh lebih praktis (dan bersih) dibandingkan menggilas dengan tangan.

CATATAN PER 26 MEI 2011: Teman-teman yang butuh Concerto bisa coba kontak ke markas NCC atau ke Yuli Kuerumahan ya. Concertoku dah dijual, tuker dengan Sico Bosch mixer.

Bahan untuk roti dari pizza disusun berdasarkan resep yang ada di "Buku Resep Singkat untuk Atlas Concerto". Sengaja aku pakai resep yang standar dulu karena dengar-dengar kalau menggunakan Concerto takaran cairannya lebih sedikit. Setelah kucoba ternyata nggak juga ... malah dari resep itu aku harus menambahkan air lagi, mungkin karena terigu yang aku pakai termasuk terigu yang kering, ya.

Satu resep ini jadi 1 pizza ukuran medium dan 4 pizza ukuran kecil. Waktu mengoles pizza yang terakhir nggak kebagian saus lagi jadi akhirnya ditambahi saus tomat botolan biasa (enak juga sih, cuman jadi nggak terasa basil & oreganonya). Dipanggangnya dengan oven tangkring. Hasilnya? Gelombang pertama: bagian depan mateng, bagian belakang menghitam! Memang oven tangkring ini panasnya sudah nggak rata lagi (huh, kapan ya bisa beli oven yang beneran. Tapi nggak boleh mengeluh, ding, ayo gembira, gembira!!).

Ternyata pizza yang separuh gosong itu habis juga tuh! Kata yang makan bagian dalamnya tetap empuk. Lumayan deh, pizza pertamaku di tahun 2009 jadi juga dan tandasss ...

Berminat? Ini resepnya.

Homemade Pizza
Modifikasi by Shirley











Bahan Roti:
500 gram Tepung terigu protein tinggi (Cakra Kembar)
1 sdm Margarin (Blue Band)
4 sdm Gula pasir
3 butir Kuning telur
1 sdm Susu bubuk
1 sdt Garam
1/2 bungkus Ragi instan
200 cc Air dingin
Saya tambahi: 1 sdt Bread improver (Baker's Plus)

Bahan Saus:
1 buah Bawang bombay, dicincang halus
1 siung Bawang putih, cincang halus
2 sdm Minyak zaitun (boleh diganti minyak goreng biasa)
200 gram Tomat segar (pilih yang matang dan tidak kecut)
400 gram Saus tomat botol (Del Monte), bisa diganti dengan 5 buah tomat segar, rebus + parut
50 gram Pasta tomat (Del Monte)
1 sdt Basil
2 sdt Oregano
1 sdt Garam (atau sesuai selera)
1/2 sdt Gula (atau sesuai selera)
1/4 kg Daging giling

Bahan Topping:
Sosis, paprika, bawang bombay, jamur dan lain-lain (sesukanya)
Keju mozarella (jangan diganti dengan keju yang lain), diparut panjang-panjang

Cara membuat:
1) Saus: panaskan minyak, tumis bawang bombay & bawang putih, masukkan pasta tomat & tomat segar, masukkan daging cincang, aduk-aduk & masak saus hingga kental dan meletup-letup. Masukkan garam, gula, oregano, basil. Aduk sebentar, angkat dan dinginkan.

2) Roti: masukkan semua bahan kering ke dalam Concerto (kecuali garam & mentega), masukkan telur , masukkan air 150 ml (jangan langsung dituang semua, sisakan supaya adonan tidak terlalu lembek). Aduk sampai agak rata. Pertama-tama adonan akan berbutir seperti havermut. Lama-lama adonan akan berbutir lebih besar seperti popcorn. Masukkan air lagi sedikit demi sedikit kalau adonan terlalu kering. Setelah adonan agak kalis (menyatu), masukkan garam dan mentega. Aduk lagi hingga adonan kalis benar. Catatan: saya memakai air hingga 250 ml. Adonan yang sudah kalis elastis jika ditarik & dibentang tidak mudah putus.

3) Proofing pertama: bulatkan & letakkan adonan yang sudah kalis di atas meja yang sudah ditaburi tepung, tutupi dengan plastik supaya permukaan tidak menjadi kering. Biarkan selama 10 menit supaya adonan menjadi rileks.

4) Proofing kedua: potong-potong adonan sesuai keperluan, bulat-bulatkan, tutup dengan plastik, istirahatkan lagi selama 30 menit.

5) Proofing ketiga: gilas masing-masing bulatan, bulatkan lagi lalu bentuk menjadi lempengan tipis seperti piring (jangan tebal-tebal karena adonan akan naik). Tusuk-tusuk dengan garpu. Biarkan selama 30 menit.

6) Topping: panaskan oven. Siapkan adonan roti, olesi dengan minyak zaitun. Olesi dengan saus tomat. Hias dengan bahan topping sesuai selera. Tutupi dengan parutan kejuga mozarella hingga tertutup.

7) Panggang selama 15 menit pada suhu 180 °C hingga matang. Untuk pizza mini, cukup panggang selama ±12 menit.

Catatan kaki: resep ini belum sempurna. Rotinya masih bisa dibikin lebih empuk lagi (tanpa perlu menjadi roti pizza). Mudah-mudahan suatu hari aku bisa menemukan rahasia bikin pizza yang enak mentul-mentul kayak P*z*a H*t ;)

Paiton, 15 Februari 2009

Friday, February 13, 2009

Termometer Oven

Sebagai pengguna oven tangkring, susah juga menengarai suhu oven yang pas sesuai resep karena memang oven jenis ini tidak dilengkapi termometer. Setelah menimbang-nimbang agak lama, akhirnya kuputuskan untuk membeli alat yang satu ini.

Berdasarkan tipe yang tersedia di TBK yang aku datangi, kusimpulkan ada dua jenis termometer: yang berbentuk jarum dan yang memiliki cantolan sekaligus tempat duduk (mirip jam beker atau plakat) . Yang berbentuk jarum harus dipatri secara permanen ke oven, artinya oven harus dilubangi, termometer dipasang lalu disolder. Aku membeli tipe yang kedua karena kelihatannya lebih praktis, tinggal letakkan di dalam oven saja. Berikut spesifikasinya.

Merek: Rowoco (A Wilton Industries Co, made in China)
Temperature range: 100 to 600 °F, 50 to 300 °C in 25° increments
Two-way hanger & stand
Rentang harga: Rp 125 sampai 135 ribu



Tips Penggunaan
(diterjemahkan bebas dari kemasan)
Temperatur oven dapat bervariasi dari bagian paling atas ke bagian paling bawah. Letakkan termometer sedekat mungkin dengan loyang untuk mendapatkan pembacaan yang akurat. Untuk hasil terbaik, berikan ruang sebesar 2 inci (sama dengan ± 5cm) antara loyang dan dinding oven.

Perhatian
Karena self-cleaning oven membutuhkan temperatur yang sangat tinggi untuk operasi pembersihannya, selalu keluarkan termometer oven terlebih dahulu.

Perawatan dan Pembersihan
Jangan pernah gunakan termometer ini pada perubahan suhu yang sangat ekstrim. Basuh dengan tangan, jangan celupkan di air. Bersihkan noda membandel dari permukaan dengan sabut wol logam yang halus.

Evaluasi
Setelah mencoba menggunakannya, menurutku penggunaan oven termometer ini tidak praktis juga. Salah satu alasannya adalah oven tangkring umumnya memiliki ruang terbatas sehingga penempatan termometer ini menghalangi kita ketika memasukkan loyang adonan. Cara mengakalinya, masukkan loyang berisi termometer pada saat pemanasan pertama oven. Setelah stabil pada suhu yang diinginkan, perhatikan besar api kompor yang menghasilkan suhu tersebut dan gunakan itu sebagai pedoman. Keluarkan termometer, tukar tempatnya dengan loyang adonan. Tambahkan waktu panggang 5 menit untuk mengganti panas yang terbuang saat pintu oven dibuka.

Paiton, 13 Februari 2009
* Happy Birthday, Li'l Bro

Wednesday, February 11, 2009

Butter Cheese Cake

Aku suka banget dengan segala macam kue yang berbau keju. Ketika membaca resep Butter Cheese Cake yang dirilis oleh NCC beberapa minggu yang lalu, langsung deh aku membulatkan tekad untuk mencobanya meskipun sebetulnya aku tidak terlalu menggilai buttercake karena teksturnya yang padat dan mengenyangkan.

Mengikuti trik Bu Fat, aku meminta asisten di rumah untuk menimbang semua bahan supaya sepulang kerja aku bisa langsung baking. Duh, mau marah aja waktu kutimbang ulang terigu kelebihan 75 gram, mentega kurang 100 gram, gula kelebihan 50 gram. Untung aku teringat semboyan Dapur Solia: setiap potongnya diolah dengan cinta. Jadi batal deh marah-marahnya hehe.

Setelah mencari-cari cream cheese tanpa hasil, akhirnya kuputuskan untuk mengganti cream cheese dengan krimcis gadungan. Setelah dipraktekkan, ternyata hasilnya enaakkk banget. Kesimpulanku, jangan panik kalau tidak berhasil mendapatkan cheese cream yang asli karena yang gadungan pun hasilnya enyak enyak enyak! Kue ini dipanggang dengan menggunakan oven tangkring (otang) dengan bantuan termometer oven yang baru dibeli minggu lalu.

Berikut resep yang telah aku modifikasi.

Butter Cheese Cake
Penulis: Fatmah Bahalwan
Modifikasi by: Shirley

Bahan A:
200 gram Mentega 1 (Orchid unsalted)
25 gram Mentega 2 (Orchid unsalted)
75 ml Susu cair (Ultra plain)
75 gram Keju cheddar, parut
½ sdt Kulit jeruk parut
175 gram Gula pasir (jika bisa gunakan gula kastor yang berbutir kecil-kecil)
5 butir Kuning telur





Bahan B:

225 gram Tepung terigu protein sedang atau all purpose flour
1½ sdt Baking powder
¼ sdt Garam

Bahan C:
5 butir Putih telur
1 sdt Air jeruk (lemon atau nipis)

Cara Membuat:
1. Siapkan 6 loyang chiffon mini, poles dengan mentega dan taburi dengan tepung terigu hingga rata.
2. Campur susu cair, keju parut dan mentega 2 dalam panci / mangkuk stainless kecil lalu tim hingga larut menjadi cairan keju yang homogen
3. Panaskan oven hingga suhu 180 °C.
4. Kocok mentega 1 dan cheese cream hingga mengembang dan pucat. Masukkan gula pasir sedikit demi sedikit sambil tetap dikocok. Masukkan kuning telur dan kulit jeruk sambil tetap dikocok hingga rata. Matikan mixer.
5. Ayak Bahan B ke dalam adonan mentega, aduk balik hingga rata. Sisihkan.
6. Di wadah terpisah, kocok bahan C hingga kaku, lalu secara bertahap campurkan dengan adonan gula-mentega. Aduk hingga rata.
7. Tuang adonan ke dalam loyang, panggang selama 30-40 menit (hingga matang dan lulus tes tusuk).

(st)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...